Monday, July 10, 2017

I want to be an entrepreneur

Saat ini aku masih bekerja di sebuah penerbitan nasional sebagai sales. Job description yang aku emban yaitu mencari pesanan buku ke sekolah, mengirim, dan menagih. Sering aku sampai ke daerah paling pinggir di sebuah kabupaten. Seneng sih kerja seperti itu, tiap hari piknik...hehehe... Tapi kadang ada hal yang bikin jengkel, di saat sales dituntut untuk mencari pesanan sebanyak-banyaknya, sering barangnya telat datang dari pusat. Kalau seperti itu, siap-siap sales 'diomelin' relasi....hehehe...

Terkadang, atau bahkan sering, ketika lagi di jalan naik motor, terlintas keinginan untuk bekerja sendiri alias berdagang (bahasa kerennya : berwirausaha). Banyak tawaran untuk menjadi agen atau reseller dari beberapa produk. Namun itu terkendala waktu. Kerja dari pagi sampai sore, monoton seperti itu tiap hari.

Bosan? Kalau bosan sih iya. Kalau aku udah bosan dengan rutinitas kerja, biasanya aku ngabisin waktu di masjid, yaa...sekedar muhasabah diri, untuk apa sih sebenarnya aku hidup....? Apakah hidup itu untuk kerja atau kerja untuk hidup?

Untuk saat ini biarlah aku bekerja dulu menikmati sebagai karyawan. Namun suatu saat nanti aku akan memiliki usaha sendiri sehingga aku akan memiliki waktu banyak untuk akhiratku dan keluargaku.

Monday, September 5, 2016

September

September 2016.
Bulan September ini menginjak 5 bulan aku kerja di perusahaan penerbit, sebut saja IP, setelah sebelumnya kerja serabutan di sebuah perusahaan startup yang bergerak di bidang internet marketing selama 6 bulan sebagai sales. Kerjaku di perusahaan startup tersebut menawarkan jasa kepada pemilik usaha supaya usahanya mau ditayangkan di website perusahaan tersebut.
Jujur, kerja di perusahaan startup tersebut, aku tidak mendapatkan gaji bulanan, hanya dapat fee jika bisa mendapatkan relasi atau customer yang mau bekerja sama dengan perusahaan tersebut. Hasilnya pun tidak bisa diprediksi, dan akibatnya aku sering bertengkar dengan istriku hanya karena aku tidak pernah menafkahi tiap bulan.

Kini, aku telah resign dari perusahaan startup tersebut dan alhamdulillah diterima kerja sebagai sales di perusahaan penerbit berskala nasional. Di awal-awal bekerja, aku tidak paham apa-apa, beruntung aku punya senior-senior yang mau bantu aku untuk menemukan ritme kerjaku. Aku tidak pernah bermimpi atau berangan-angan bisa bekerja di sebuah penerbitan berskala nasional. Semua mengalir saja atas izin Allah serta doa dari ibu dan istriku. Step by step aku mulai bisa menjalin relasi ke sekolah-sekolah, untuk kategori beginner ya...alhamdulillah...walaupun aku mengakui belum maksimal.

Jangan dikira kerja di penerbitan berskala nasional itu enak, justru di sinilah aku belajar arti apa itu kerja keras, mulai dari jadi kuli angkut buku-buku yang ditaruh di kardus besar sampai belajar step by step manajerial ( maksudnya manajemen diri ketika bekerja ). Tiap hari bisa dipastikan minimal 2 kuintal buku-buku dalam bentuk koli harus diangkat, entah itu diturunkan dari truk ada kiriman buku atau mengantar buku ke relasi dengan motor. Sebagai anak baru di perusahaan penerbitan nasional, aku sering dibentak-bentak atau dicari-cari kesalahan oleh senior. But it's not a problem to me. Justru mentalku terasah dan tidak menjadi cengeng. Aku selalu berpikir positif. Apa yang aku terima entah itu bentakan atau bully-an, aku anggap itu sebagai gemblengan. Bukankah orang sukses itu yang mampu melewati berbagai rintangan dengan kepala tegak? Itu yang selalu aku tanamkan dalam pikiranku.

Mungkin itu saja dulu sedikit cerita dari aku. Lain waktu bisa dilanjut lagi, Insya Allah.

Tuesday, March 1, 2016

Jadikan hobimu sebagai jalan rezekimu



Judul di atas bukanlah mengada-ada karena selama ini aku melihat banyaknya pengangguran yang kebanyakan adalah fresh graduate alias sarjana yang baru lulus kuliah. Para mahasiswa ketika kuliah yang dipikirin cuma kuliah, pulang, nongkrong, dan pacaran. Mereka selama kuliah tidak pernah memkirkan apa yang akan dilakukan setelah mereka lulus. Mungkin dipikiran mereka, setelah lulus baru dipikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Dikira mereka, jika lulus kuliah dengan nilai memuaskan, akan mendapat jaminan kerja. Sesimpel itukah kenyataannya? Tidak! Saingan para fresh graduate itu tidak cuma teman-teman satu kampus, melainkan ribuan fresh graduate. Dan asal tau aja ya, perusahaan yang menyediakan lapangan kerja hanya membutuhkan karyawan yang berpengalaman. Lha ini lulusan sarjana bisa apa? Kalo selama kuliah hanya ‘menyusu’ alias menengadahkan tangan pada orang tua, lulus kuliah bisa apa? Mikir dong!!!

Tidak banyak mahasiswa yang saat kuliah mulai memikirkan apa yang harus dilakukan setelah lulus. Hanya sebagian kecil mahasiswa yang, mungkin, karena kepepet lalu muncul ide kreatif untuk memulai suatu usaha atau pekerjaan. Usaha atau pekerjaan yang mereka lakukan awalnya sederhana dan bisa jadi dipandang sebelah mata oleh orang lain. Ada yang memulai usaha dengan jadi perantara antara konsumen dan pemilik usaha, ada yang berjualan makanan, atau jadi marketing freelance di suatu perusahaan. Eh..,jangan dikira jadi marketing freelance itu pekerjaan sia-sia loh, justru bisa jadi malah pendapatannya besar.

Ngomong-ngomong tentang marketing, entah itu freelance atau full time, itu suatu pekerjaan yang luar biasa menurut aku. Kenapa aku bilang luar biasa? Karena marketing itu tidak terikat jam kerja, dan dia sendirilah yang ‘menciptakan kerja untuk dirinya sendiri’. ‘Menciptakan kerja untuk dirinya sendiri’ maksudnya apa? Gini…, seorang marketer atau marketing, yang freelance atau full time, memiliki ritme kerja sendiri. Misal, antara jam segini sampai jam segini, harus prospek ke beberapa calon konsumen/pelanggan. Lalu, bikin jadwal untuk bikin appointment atau janji ketemu dengan konsumen. Semua itu dia lakukan supaya jadwal kuliah mahasiswa yang jadi marketing tidak bertabrakan. Jadi tidak heran, mahasiswa yang demikian ini adalah mahasiswa yang cerdas, waktunya tidak dihabiskan dengan nongkrong atau pacaran yang nggak penting. Dan biasanya, mahasiswa yang memanfaatkan waktu dengan bekerja sebagai marketing freelance atau full time, ke depannya memiliki usaha atau jadi pengusaha.

Kembali ke judul di atas. Aku ingat nasehat dari seorang teman, yang mungkin singkatnya begini : “Buat apa kau susah-susah cari kerja di tempat lain jika hobi yang kau miliki bisa jadi jalan rezeki buat kau dan keluarga.” Dan satu lagi, di dunia ini tidak ada yang namanya ‘orang cerdas’, ‘orang jenius’, ‘orang bejo’, atau ‘orang bodoh’. Yang ada hanyalah “orang yang tekun dan bersungguh-sungguh di dalam menggapai mimpinya”, seperti pepatah Jawa mengatakan : “Sopo sing tekun utawa telaten, mesti bakalan tekan”. Tekun atau telaten di sini sangat luas maknanya. Selain tekun/telaten dalam bekerja, juga tekun/telaten dalam berdoa atau mengharap pertolongan Allah.

Tuesday, November 10, 2015

Hidup ini Dinamis

Ada pepatah mengatakan : 'Berani hidup artinya berani mati, berani mati artinya tidak takut hidup, tidak berani hidup artinya mati saja.' Begitulah kira-kira pepatah mengatakan. Hidup ini memang berat karena dunia ini diciptakan Allah untuk manusia mencari bekal menuju kehidupan kekal di akhirat.

Hidup ini dinamis. Tiap saat, tiap detik, selalu berubah, tidak pernah berhenti walaupun cuma sekejap mata. Hidup ini dinamis. Tiap saat terjadi pergerakan. Hidup ini dinamis. Bergerak untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Hidup ini dinamis. Alangkah rugi jika hanya dihabiskan dengan bermalas-malasan dan banyak beralasan. Hidup ini dinamis karena Allah telah menjamin rezeki manusia asalkan mau berusaha dan berdoa. Hidup ini dinamis. Asalkan manusia mau bergerak, melangkah ke segala penjuru bumi Allah, pasti akan menemukan rezekinya.

Buat apa mengeluh hanya karena dikasih cobaan oleh Allah? Pernahkah kau bayangkan betapa beratnya Nabi Ayyub alaihis salam, yang mulanya kaya raya, lalu diberi ujian bertubi-tubi oleh Allah. Hasilnya apa? Beliau makin dekat pada Allah dan makin dicintai Allah. Pernahkah kau bayangkan betapa beratnya perjuangan dakwah Rasulullah Muhammad SAW. Beliau berdakwah dengan mendapat cobaan yang luar biasa. Beliau senantiasa bersabar dan pasrah kepada Allah. Hasilnya apa? Saya, Anda, dan kita semua dapat menikmati indahnya risalah Islam. Wallahu a'lam.

Hidup ini dinamis. Mengapa juga kau harus menangis saat sesuatu yang kau miliki tidak ada di dekatmu? Hidup ini dinamis. Mengapa juga kau putus asa dari rahmat Allah saat kau ditimpa musibah? Renungkan ini duhai saudaraku. Jangan pernah berputus asa karena yang berputus asa hanyalah iblis laknatullah. Wallahu a'lam.

Monday, November 9, 2015

Jadikan Hobimu sebagai Jalan Rezekimu

Judul di atas bukanlah mengada-ada karena selama ini aku melihat banyaknya pengangguran yang kebanyakan adalah fresh graduate alias sarjana yang baru lulus kuliah. Para mahasiswa ketika kuliah yang dipikirin cuma kuliah, pulang, nongkrong, dan pacaran. Mereka selama kuliah tidak pernah memkirkan apa yang akan dilakukan setelah mereka lulus. Mungkin dipikiran mereka, setelah lulus baru dipikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Dikira mereka, jika lulus kuliah dengan nilai memuaskan, akan mendapat jaminan kerja. Sesimpel itukah kenyataannya? Tidak! Saingan para fresh graduate itu tidak cuma teman-teman satu kampus, melainkan ribuan fresh graduate. Dan asal tau aja ya, perusahaan yang menyediakan lapangan kerja hanya membutuhkan karyawan yang berpengalaman. Lha ini lulusan sarjana bisa apa? Kalo selama kuliah hanya ‘menyusu’ alias menengadahkan tangan pada orang tua, lulus kuliah bisa apa? Mikir dong!!!
Tidak banyak mahasiswa yang saat kuliah mulai memikirkan apa yang harus dilakukan setelah lulus. Hanya sebagian kecil mahasiswa yang, mungkin, karena kepepet lalu muncul ide kreatif untuk memulai suatu usaha atau pekerjaan. Usaha atau pekerjaan yang mereka lakukan awalnya sederhana dan bisa jadi dipandang sebelah mata oleh orang lain. Ada yang memulai usaha dengan jadi perantara antara konsumen dan pemilik usaha, ada yang berjualan makanan, atau jadi marketing freelance di suatu perusahaan. Eh..,jangan dikira jadi marketing freelance itu pekerjaan sia-sia loh, justru bisa jadi malah pendapatannya besar.
Ngomong-ngomong tentang marketing, entah itu freelance atau full time, itu suatu pekerjaan yang luar biasa menurut aku. Kenapa aku bilang luar biasa? Karena marketing itu tidak terikat jam kerja, dan dia sendirilah yang ‘menciptakan kerja untuk dirinya sendiri’. ‘Menciptakan kerja untuk dirinya sendiri’ maksudnya apa? Gini…, seorang marketer atau marketing, yang freelance atau full time, memiliki ritme kerja sendiri. Misal, antara jam segini sampai jam segini, harus prospek ke beberapa calon konsumen/pelanggan. Lalu, bikin jadwal untuk bikin appointment atau janji ketemu dengan konsumen. Semua itu dia lakukan supaya jadwal kuliah mahasiswa yang jadi marketing tidak bertabrakan. Jadi tidak heran, mahasiswa yang demikian ini adalah mahasiswa yang cerdas, waktunya tidak dihabiskan dengan nongkrong atau pacaran yang nggak penting. Dan biasanya, mahasiswa yang memanfaatkan waktu dengan bekerja sebagai marketing freelance atau full time, ke depannya memiliki usaha atau jadi pengusaha.

Kembali ke judul di atas. Aku ingat nasehat dari seorang teman, yang mungkin singkatnya begini : “Buat apa kau susah-susah cari kerja di tempat lain jika hobi yang kau miliki bisa jadi jalan rezeki buat kau dan keluarga.” Dan satu lagi, di dunia ini tidak ada yang namanya ‘orang cerdas’, ‘orang jenius’, ‘orang bejo’, atau ‘orang bodoh’. Yang ada hanyalah “orang yang tekun dan bersungguh-sungguh di dalam menggapai mimpinya”, seperti pepatah Jawa mengatakan : “Sopo sing tekun utawa telaten, mesti bakalan tekan”. Tekun atau telaten di sini sangat luas maknanya. Selain tekun/telaten dalam bekerja, juga tekun/telaten dalam berdoa atau mengharap pertolongan Allah. 

Friday, November 6, 2015

Marketing, profesi menjanjikan

Marketing, istilah ini mungkin tidaklah asing bagi kita. Marketing adalah suatu profesi dengan job description memasarkan produk barang atau jasa suatu perusahaan. Marketing dalam suatu perusahaan diibaratkan sebagai panglima garis depan dalam suatu peperangan, yaitu harus memberikan 'kemenangan' bagi perusahaan supaya produk barang atau jasa diserap oleh konsumen.

Marketing sering dipandang sebelah mata oleh sebagian besar masyarakat bahkan para fresh graduate pun tidak mau atau enggan jika ada lowongan kerja marketing. Alasan mereka klasik yaitu buat apa sekolah tinggi-tinggi jika akhirnya harus jadi marketing. Mereka inginnya kerja kantoran tanpa harus berpanas-panasan di jalan menawarkan barang atau jasa.

Marketing berasal dari bahasa Inggris, yaitu Market dan ditambah akhiran -ing. Makna harfiah dari Marketing adalah pekerjaan memasarkan suatu produk barang atau jasa dari suatu perusahaan.

Pekerjaan sebagai marketing bukanlah pekerjaan yang hina. Justru malah pekerjaan sebagai marketing itu pekerjaan atau profesi yang sangat menjanjikan. Profesi marketing itu berpotensi menghasilkan pendapatan yang besar, jauh melebihi pendapatan sebagai buruh pabrik. Kebanyakan yang kami tahu, pendapatan marketing itu berdasarkan omzet yang didapat seorang marketing. Makin besar omzet yang didapat, makin besar pula pendapatannya.

Profesi marketing membutuhkan kreativitas. Maka dari itu, kemampuan menggunakan daya imajinasi dan out of the box harus selalu diasah. Profesi marketing itu juga lebih dekat untuk menjadi pengusaha. So, masih ragu untuk berprofesi sebagai marketing?

Sunday, November 1, 2015

Kepo itu bukanlah hal yang tabu

Banyak orang yang berpendapat bahwa kepo itu hal yang tabu. Kalau saya sendiri bilang kepo itu bukanlah hal yang tabu bahkan tiap orang harus memiliki sikap kepo. Penasaran khan?

Jujur, saya ini orangnya kepo, selalu saja ingin tahu segala hal. Is it wrong? No! Karena orang yang kepo itu tandanya bahwa orang tersebut orang yang mau belajar. Coba kalau tidak kepo, bisa apa kita ini. So, kepo bukanlah hal yang tabu selama kepo tersebut mendatangkan suatu ilmu baru yang berguna dalam hidup kita. That's all!